We are the King and the Queen!!!

Huaaa… lama nian ga posting😀 harap maklum sebulan sebelum pernikahan adalah masa-masa hectic hehehe… ribet ngurus ini itu deh, belum lagi urusan kerjaan yang nambahin mumet juga *rollingeyes* Oke oke, cukup curcolnya😀 Di kesempatan pertama setelah acara pernikahan dan hanimun kelar *ehem* kami berdua melalui blog ini ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu kami mulai dari persiapan sampai pelaksanaan pernikahan kami berlangsung sukses. Makasih juga buat semua yang udah dateng ke akad nikah maupun resepsi kami, plus yang udah ngedoain baik dari dekat maupun dari jauh. Makasih yaaa —gaya banget, kayak banyak aja yang baca blog ini😀

Nah, selanjutnya kami pengen sedikit share mengenai hasil tata rias pengantin kami😉

Seperti yang sudah kami share sebelumnya disini, kami menggunakan jasa Krisnaluki Sanggar Rias dan Busana by Ibu Krisnawati. Dari mulai acara siraman, midodareni, akad nikah, sampai resepsi pernikahan semua Ibu Kris yang langsung merias dengan dibantu beberapa asisten. Kalo pas siraman sih dandanannya sederhana aja ya, secara mau diguyur air juga hehe. Ohya, untuk siraman ini kostum yang Ai pake tetep kostum siraman muslimah ya, jadinya kayak gini nih:

Setelah siraman baru deh dirias yang ga gitu sederhana *hayah*, tapi ya ga terlalu medok lah riasannya, kurang lebih seperti ini:

Trus malemnya dilangsungkan acara peningsetan dan midodareni, yang merupakan acara adat tradisi Jawa. Hmm, acara peningsetan ini mungkin lebih sering dikenal dengan nama serah-serahan ya.. Peningset atau serah-serahan adalah pemberian dari pihak mempelai pria. Berasal dari kata Singset yang artinya ”mengikat”, peningset berarti hadiah yang menjadi pengikat hati antara dua keluarga. Peningset bagian dalam tahap prosesi upacara pernikahan adat Jawa. Tahap sebelumnya adalah lamaran keluarga calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan. Peningset dianggap sebagai proses yang sakral dalam sebuah perkawinan jawa, meskipun caranya bervariasi. Ada yang digelar dengan lengkap dan ada pula yang tidak. Nah, kalo yang kami lakukan kayaknya sih termasuk yang kurang lengkap ya, soalnya isi dari seserahannya sesuka-suka kami plus orang tua Ai hehehe… Tapi isian yang biasanya ada di adat Jawa sebagian besar kami masukkan, yang tidak dimasukkan cuma bahan kain untuk kebaya (kami beli kebaya encim yang uda jadi biar ga repot hehe) sama sejumlah uang sebagai sumbangsih dari pihak mempelai pria (karena uang sudah ditransfer ke rekening Mama Ai sebelum acara, kami kan pengantin modern hehehe). Ohya, di adat Jawa terkadang item serah-serahan juga termasuk satu set cincin kawin, tapi kemarin kami tidak memasukkan sebagai salah satu item seserahan, cincin langsung dibawa pada saat acara akad nikah. Teruuuus, untuk urusan menghias seserahan, sebagian seserahan Ai hias sendiri lho hehehe, cuma dua buah seserahan yang dihias sama tenaga yang emang ahli di bidangnya. Cerita lebih detail tentang seserahan ini akan kami posting berikutnya ya😉

Nah, kalo acara midodareni, menurut adat Jawa, Malam Midodareni adalah malam menjelang akad nikah dan panggih.  Midodareni berasal dari kata widodari. Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa pada malam tersebut, para bidadari dari khayangan akan turun ke bumi dan bertandang ke kediaman calon pengantin wanita, untuk menyempurnakan dan mempercantik pengantin wanita. Midodareni ini adalah tahap terakhir sebelum upacara pernikahan dilaksanakan. Boleh dikata midodareni ditujukan untuk merayakan malam terakhir calon pengantin perempuan berstatus lajang (kalo kata bule mungkin semacam bachelor party kali yaaa hahahaha). Upacara ini digelar pada malam hari menjelang pernikahan di kediaman calon pengantin perempuan. Dalam proses ini, calon pengantin perempuan akan dirias lalu “disembunyikan” dalam kamar untuk mempersiapkan “menerima tamu”, yaitu dewi atau ‘widodari” dari khayangan. Pas malam midodareni itu Ai ga boleh bobo sampe jam 12 malem, katanya sih nunggu “widodari” turun dari khayangan hihihi. Uda gitu Ai cuma minum air putih doang, baru makan lepas jam 12, bobo sekitar jam 1 pagi, dan bangun jam 4 pagi hahahaha…. Berikut adalah penampakan Ai saat malam midodareni😀

Nah, pagi-pagi sekitar jam setengah limaan Ai uda mulai dirias. Suasana rumah juga mulai riweuh, mulai banyak keluarga yang dirias, skitar jam 7 Ai uda rapi dan siap. Rencana acara akad nikah dilaksanakan jam 8 di Masjid UGM. Tapi begitu keluar kamar pengantin Ai liet masih lumayan banyak keluarga yang belum dirias, yang cowo cowo juga belum pada pake beskap dan kain *duh* ternyata kru rias yang tugasnya makein kain malah sakit huhuhu syukurlah akhirnya ada satu orang yang dateng, plus mama yang ikutan ngebantuin hehe. Ternyata eh ternyata lagi, Masjid UGM itu kalo tiap hari Minggu ada acara pengajian jadi acara akad nikah ga bisa dilaksanakan pukul 8 teng, padahal pak penghulunya ada jadwal nikahin di tempat lain setelah di tempat kami *duh* Untungnya Papa uda sempet nelpon untuk ngasi tahu. Akhirnya acara akad nikah kami baru dilaksanakan sekitar pukul 8.30 tapi karena dilakukan dengan cepat dan padat *hayah* acara bisa selesai kurang dari sejam, yaaa jam 9.30 itu uda kelar termasuk sama foto-foto dan tetek bengeknya. Alhamdulillah… sempet deg-deg ser juga sih, takut Sei salah merapal bacaan akadnya, tapi alhamdulillah semua lancaaaar dan Ai cuma bisa terharu menahan air mata😀

Begitu kelar acara akad nikah, kedua pengantin *bukan capeng lagi hehe* beserta Papa-Mama dan Bapak-Ibu segera menuju Grha Sabha Praman untuk bersalin ehhh ganti kostum maksudnya. Ceritanya Ai sama Sei musti ganti kostum Ageng Kanigaran. Dan ternyata sodara-sodaraaaa…. kain yang kami pakai itu panjangnya 8 meter!!! Tapi dengan tetap tersenyum kami memakainya😉 Kalo kata temen sih kami jadi kayak raja dan ratu gitu wkwkwk dan inilah penampakannya:

Alhamdulillah juga kami kuat berdiri, salaman, dan senyum sampai jam 2 lebih. Padahal kata Mama ada lho pengantin yang make riasan kaya Ai itu pingsan bahkan sebelum acara dimulai. Syukur alhamdulillah juga acara berjalan lancar, mulai dari upacara panggih (detil mengenai upacara panggih bisa dibaca disini) sampai para tamu pulang semua. Capenya ga berasa selama acara, baru kerasa pas turun makan, kepala mulai kliyengan karena sanggul mulai berat. Tapi alhamdulillah banget kami kuat dari awal sampe akhir, padahal kami puasa lho dari bangun tidur, baru mulai makan sekitar jam 3 sore hehehe. Berikut sedikit gambar saat upacara panggih:

Alhamdulillah semua acara berjalan lancar dari awal sampai akhir. Well, ternyata jadi raja dan ratu itu cukup melelahkan ya… tapi menyenangkan sih ahahahaha…. *winkwink*

2 Comments (+add yours?)

  1. dinhie
    Aug 07, 2011 @ 05:15:16

    ihirr..selamat ya jeungg..! dtggu kisah hanimunnya😛

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: