Our Catering Vendor: The Review

Okeee… kali ini giliran review catering yaaa ^.^

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya disini, untuk perhelatan resepsi pernikahan (hayah bahasanya) kami serahkan pada Al Buruuj Catering. Oya, kali ini gw cuma bakalan review tentang Al Buruuj aja ya… meskipun di acara midodareni dan akad nikah kami ga pake jasa mereka.

Khusus untuk acara resepsi ini emang Mama-Papa menggunakan jasa Wedding Organizer (WO). Pertimbangannya karena ada acara adat panggihnya plus ada tari-tariannya gitu. Mengenai WO akan kami bahas kapan-kapan hehehe… Nah, karena ada WO maka sempat diadakan beberapa kali pertemuan (technical meeting) baik dengan panitia maupun dengan para vendor. Total jendral kami berdua sempet ikutan 2x sesi pertemuan dengan WO, vendor dekorasi, vendor catering, dan perias. Di pertemuan itu dibahas mengenai detail acara resepsi, jam berapa para vendor sudah harus siap, mencocokkan tema dekorasi antara pelaminan dan catering, dan hal-hal lainnya.

Tema warna untuk dekorasi catering yang digunakan senada dengan tema dekorasi pelaminan dan gedung, yaitu perpaduan antara biru, krem, putih dan cokelat. Untuk dekorasi catering yang semua dikerjakan pihak Al Buruuj, overall kami berdua puas banget karena matching banget sama dekorasi gedung dan pelaminan, plus kesannya juga mewah 🙂

menu buffet di bagian tamu umum

Untuk menu, masih sama kayak yang kami tulis sebelumnya disini. Cuma memang untuk menu buffet-nya kami agak lupa apa aja item-nya, maklum ya kalo pengantinnya tuh malah justru ga bisa menikmati makanannya. Padahal Ai diminta untuk puasa sejak jam 4 pagi sampe selesai acara resepsi, yang kalo ga salah sekitar jam 3 sore baru kelar. Bayangin yaaa… kami berdua dari awal acara sampe selesai nyalamin tamu terus, foto-foto terus, kayak-kayaknya sampe ga sempet duduk, mo minum aja musti nyetop tamu, hedehhh… Tapi seneng juga sih, artinya banyak tamu yang dateng hihihi… Pas jam 3 kami makan itu juga cuma makan menu buffet, itupun ga semua item diambil. Gara-garanya kepala uda mulai berat, rasanya uda pengen copot semua dandanan, makan jadi ga konsen 😀 Jadinya, untuk menu gubug kami makannya di rumah, itupun ga semua. Menu gubug yang sempet kami coba di rumah itu zuppa soup, bakso daging, sama burger steak aja. Sisanya ga tau kayak mana rasanya hehehe… Yasud lah, yang penting tamu puas dan sisa makanan melimpah hehehe…

Oya, ngomong-ngomong tentang sisa makanan yang lumayan banyak ini sebenernya karena Papa emang mesennya lebih-lebih banget. Secara mantu pertama kali yaaa… Jadinya Papa beneran ga mau kalo ada tamu yang kehabisan makanan. Soalnya Papa pernah dateng ke kondangan temennya, ehhh baru kurang lebih setengah jam ato sejam dari acara dimulai makanan uda mulai habis, alhasil cukup banyak tamu yang ga kebagian makanan. Kata Papa:

Jangan sampai tamu kita ada yang ga kebagian makanan, malu-maluin aja… Mendingan sisa kan daripada kurang…

Soooo, kalo menurut hasil googling sih ada beberapa tips menentukan jumlah pemesanan catering, antara lain:

Cara 1: Pertama tentukan jumlah undangan, trus dikalikan 2 (dengan asumsi tamu datang berdua atau berpasangan), bisa juga dikalikan 2,3 (kalo diasumsikan yang datang banyak yang akan bawa anak-anak). Selanjutnya kita tentukan persentase tingkat kehadiran tamu (biasanya sekitar 70% – 85%), jangan lupa ditambah dengan jumlah keluarga dan panitia ya…  Selanjutnya, pilih rasio menu buffet : menu gubug, umumnya sih 60 : 40 atau 70 : 30, tapi yang tergantung keinginan masing-masing. Terus, tentukan kita mau berapa gubug, bisa 4, 5, 6, atau 7, tergantung budget ya hehehe… Nah, ini contoh perhitungan kalo undangan berjumlah 500:

  • Jumlah undangan 500 dikalikan 2 = 1000 orang
  • Tingkat kehadiran 85% x 1000 = 850 orang + keluarga & panita 50 = 900 orang
  • Pilih ratio Buffet : Gubug 60:40
  • Untuk Buffet : 900 x 60% = 540 porsi, boleh dibulatkan jadi 600 porsi kalo takut keabisan
  • Terdapat 5 jenis Gubug, 900 x 40% = 360 orang yang kira-kira akan mampir ke Gubug. Katakan 1 orang mampir ke 4 Gubug, 360 x 4 = 1440, boleh dibulatkan ke 1500 just in case takut kekurangan. 1500 : 5 gubug = 300 porsi utk masing-masing Gubug.

Cara 2: Kita menentukan dulu banyaknya undangan kita. Misalkan kita mengirimkan 400 undangan, maka jumlah tamu diprediksi dua kalinya yakni 800 orang. Kita menyiapkan sekitar 500 porsi untuk menu buffet. Berarti sisanya 300 orang, akan makan menu gubug. Setiap orang dari 300 orang tersebut akan makan menu gubug sebanyak 3 kali. Akan tetapi, hal ini ditambah lagi dengan 500 orang yang makan menu buffet tadi akan memakan sekali menu gubug. Jadi, total porsi untuk menu gubug yang disiapkan adalah (3 x 300) + 500 porsi = 1400 porsi. Dengan demikian, total pesanan adalah 500 porsi menu buffet dan 1400 porsi menu gubug. Ada tambahan tips pula, untuk menu gubug, jika porsi makanan di setiap gubug tidak lebih dari 400 porsi, sebaiknya dibuat satu gubug saja. Hal ini untuk mencegah cepat habisnya makanan di satu gubug. Tentu kita tidak ingin, makanan sudah habis padahal acara masih panjang. Dalam perhitungan jumlah undangan, diperhitungkan pula undangan yang kita kirimkan lewat email, sms, telepon, maupun Facebook serta saudara-saudara yang diprediksi akan hadir walaupun kita tidak mengirimkan kartu undangan secara khusus.

Kurang lebih begitu ya… Kalo kami sih waktu itu yang nentuin jumlah pesanannya si Papa semua ya hehe… Tapi kalo ga salah rinciannya gini nih:

  • Jumlah undangan kami 1200 undangan (sudah termasuk keluarga dan panitia), jadi perkiraan jumlah tamu 2400 orang. Tamu diperkirakan hadir 2000 orang.
  • Menu buffet yang dipesan: 1300 porsi (65% dari 2000 orang).
  • Menu gubug (kira-kira ya, soalnya kami lupa pastinya hehehe):
  1. Nasi gudeg: ±600 porsi
  2. Mie jawa dan mie oriental: ±600 porsi
  3. Bakso daging (tanpa mie): ±750 porsi
  4. Tongseng kambing: ±600 porsi
  5. Zuppa soup: ±600 porsi
  6. Burger steak: ±700 porsi
  7. Crepes: ±600 porsi

Kurang lebih begitu ya… Untuk menu gubug memang Papa mesennya dilebih-lebihin banget. Dengan pertimbangan tren sekarang orang lebih suka menu gubug daripada buffet —mungkin pada menghindari nasi ya, padahal ya sama aja hehe…  Tapi yang paling penting sih kata Papa karena takut kurang hehehe… Alhasil sih emang menu buffet yang paling banyak nyisanya. Tapi lumayan bisa ngasi bungkusan buat para panitia wkwkwk…

menu gubug di bagian tamu undangan

menu gubug bagian tamu VIP dan keluarga

Ohya, untuk pembagian mejanya, menu-menu yang kami pesan itu didistribusikan menjadi 3, yaitu tamu VIP, tamu umum, dan keluarga. Nah, kalo untuk proporsinya kami kurang begitu tahu hehehe maaf… Tapi biasanya pihak catering akan membantu kita dalam pembagian berapa porsi yang harus diletakkan di bagian tamu VIP, tamu umum maupun keluarga. Tapi kemungkinan besar sih disesuaikan dengan berapa jumlah tamu VIP kita, berapa jumlah tamu umum kita, dan berapa jumlah keluarga. Kebetulan kami lupa berapa detail jumlah tamu kami jadi ga bisa kasi gambaran hehehe… Jangan takut ya buat minta pendapat ke pihak catering karena mereka tentunya sudah berpengalaman. Tapi tetep musti kontrol karena terkadang ada juga catering yang ngasi saran untuk ngelebih-lebihin semua jenis makanan jadi sisa makannya lebay dan kita membayar untuk hal yang boleh dibilang agak percuma.

Nahhh… untuk soal rasa, kami sebagai pengantin yang nyicipnya terbatas sih ngerasa semua enak ya… tapi kan kayaknya lebih afdhol kalo dengerin testimoni dari tamu yang hadir ya… Beberapa yang bersedia bertestimoni antara lain:

Selain dua tamu tersebut di atas, sebagian besar tamu undangan yang kami tanyain sih mengaku puas dengan makanan di resepsi pernikahan kami. Kata mereka sih:

Enak-enak semua rasanya.

Senangnyaaaa… Soalnya yang namanya makanan di acara pernikahan itu meskipun langsung habis dan ga ada yang bisa disimpan sebagai kenang-kenangan tapi merupakan elemen terpenting. Why oh why??? Ya karena kalo makanannya enak yang diinget sama tamu ya tentang makanannya itu, begitu juga sebaliknya. Jadi, yang tersimpan di memori para tamu yang utama ya mengenai makanannya. Soalnya itu yang langsung mereka nikmati dan rasakan. Jadi, menurut kami kesuksesan acara tuh kalo banyak yang muji makananya enak hehehe…

Karena itu, kami berdua mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Aziz dan Mba Dea, the owner of Al Buruuj, plus mba Rita yang selalu hadir waktu technical meeting dan uda banyak membantu sehingga acara resepsi pernikahan kami bisa sukses. Danke yaaaa… :*

with the owner of Al Buruuj

Al Buruuj??? Recommended sangad laaaa ^.^

Advertisements

Our Catering Vendor

Hooo… saking sibuknya *hayah* jadi lupa ngebahas hal satu ini deh, padahal catering adalah hal paling penting lho menurut Ai kalo qt mo ngadain suatu acara, acara apapun itu. Etapi sebenernya crita soal catering ini agak kelupaan karena kebanyakan Mama yang ngurusin siy hehehe. Secara acara bakal diadakan di Jogja, jadi ya Mama lebih leluasa untuk bergerak daripada Ai 😛 Dan sama seperti pemilihan gedung resepsi ataupun akad nikah, pemilihan catering ini *khususnya untuk resepsi* juga tidak mengalami kebingungan yang cukup berarti karena Mama sama Papa punya kenalan yang bergerak di bisnis catering dan kebetulan cateringnya itu termasuk catering yang oke di Jogja, moga-moga aja dapet diskon oke 😉 *amiin*

So, inilah vendor catering untuk pernikahan kami:

  • Catering untuk resepsi: Al Buruuj Catering, Jl. Nitikan Baru No. 77 Yogyakarta, Telp 0274-371151
  • Catering untuk midodareni dan akad nikah: Amalia Catering, alamatnya ga tau, belum tanya Mama 😛

Nah, masalah baru muncul saat kami mulai memilih menu untuk resepsi. Banyak banget pilihannya, uda gitu Papa maunya juga jangan sampai tamu kami kehabisan makanan. Mba Rita, orang Al Buruuj, pinter pula ngebujuk-bujuk Papa sama Mama untuk nambahin menu ini itu *ya iyalah, marketing bo hehehe* Tapi so far, Mba Rita cukup banyak ngasi masukan siy, kayak menu apa aja yang lebih disukai orang, yang semua orang bisa makan, trus kombinasi antara buffet sama gubuk jangan sampai ada yang dobel, gitu-gitu d…

Pertemuan terakhir dengan Mba Rita siy menu yang kami pilih adalah:

  • Buffet:
  1. Nasi putih
  2. Sup merah dan timlo
  3. Gurameh (lupa dimasak apa hehehe)
  4. Sate ayam
  5. Ca jamur brokoli
  6. Kerupuk udang dan rambak
  7. —Lupa ni menu yang satu ini 😛
  • Gubuk:
  1. Nasi gudeg
  2. Mie jawa dan mie oriental
  3. Bakso daging (tanpa mie)
  4. Tongseng kambing
  5. Zuppa soup
  6. Burger steak
  7. Crepes
  • Minuman dan dessert:
  1. Teh
  2. Air mineral
  3. Softdrink/juice
  4. Es krim
  5. Buah iris dan pudding

 

Oya, itu sudah termasuk alat saji dan peralatan meja standar plus tata meja dan dekorasi meja ya… Kami pilih warna biru untuk dekorasi catering-nya, sesuai sama tema pernikahan kami… Ehh sama satu lagi, ice craving inisial nama kami berdua juga donk hehehe…

List menu di atas masi bisa berubah ya… bisa berubah tergantung budget hehe, bisa juga karena pas testfood kurang sreg, meskipun kita sudah sempet testfood siy di nikahan temen Ai, tapi kebanyakan menu yang kami pilih itu belum pernah kami coba 😦 Mudah-mudahan aja siy enak semua ya… amiin…

Soal harga, hmmm… relatif ya kalo kata Ai. Kalo dibandingkan dengan harga catering di Jakarta mah jelas ya jawabannya hehehe… Tapi emang untuk di Jogja vendor catering kami ini harganya cukup mahal *bagi kantong kami hehehe* Namun kami sadar betul dalam suatu acara pernikahan yang paling diinget sama para tamu itu adalah makanan, makanya dibela-belain deh ngerogoh kocek kami dan Mama-Papa lebih dalam hehehe. Mudah-mudahan aja worth it yaaa dan nantinya para tamu puas… amiin…